Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

Puisi_Gelap

Puisi : Gelap
Oleh Unus Prajakaparta


Langit mulai gelap
Awan hitam mulai berarak menyelubungi sang langit
Kelelawar dan burung-burung gagak hitam
Membangkitkan fatamorgana
Mereka terbang berputar-putar
Suaranya melengking dan menyayat telinga
Mereka mencari mangsa
Entah kepada siapa, entah kepada apa saja yang ditemui

Suasana begitu gelap
Mereka datang dari arah mana saja yang gelap dan lembab
Entah apa yang ada di dalam benak mereka
Tak tau apakah ini murka
Atau sekedar pelepas dahaga

Mereka mengamuk pada manusia-manusia laknat
Tak peduli dengan semuanya
Darah bagaikan air di musim hujan
Merebak bau amis dan busuk bangkai-bangkai yang ditumbuhi ulat

Gelap, mereka melesat
Menghantui satu per satu dari kita
Semua akan terasa ngeri bila mereka di depan mata
Bau amis darah dan taring dengan sisa-sisa daging busuk
Berputar-putar mereka di atas kepala
Dalam suasana yang gelap dan mencekam

Puisi_Catatan 027

Puisi : Catatan 027
Oleh Unus Prajakaparta


Ke mana lagi aku harus melangkah dan mencarimu ?
Sedang di sepanjang jalan
Orang-orang memandangku
Seperti hendak telanjangi jiwa ini

Aku tidak pernah takut pada semua
Namun tak bisa pula aku bernaif durja
Tentang semua gelora di dalam jiwa penuh nada

Aku selalu tersenyum setiap kali engkau bisu
Aku tak pernah tau apa yang engkau mau

Telah sadar betul siapa diriku ini
Pengemis yang meminta satu kata darimu
Akulah si pengemis
Yang mengetuk pintu hatimu
Dengan sejuta harapan

Seumpama harapan siang
Yang merebut kesucian malam
Kenapa engkau masih bisu ?
Tak mau membuka sepatah kata pun untukku

Kini, semua harapan telah menjadi abu
Abu yang telah memburamkan mata ini
Sering aku jumpai
Setitik embun yang ingin mengobati mataku
Namun aku menolaknya
Karena aku tetap mengharap uluran tangan darimu
Yang akan menuntunku
Meski aku tau semua itu semu

Puisi_Bunga yang hilang

Puisi : Bunga yang hilang
Oleh Unus Prajakaparta


Kau telah kehilangan bungamu kawan
Dan semua orang memberi nasihat kepadamu
Kau tidak tau di mana bungamu kini berada
Dan aku yakin kau telah keliru memilih jalan

Kulihat matamu sayu dan sendu
Seberapa kuat kau akan menepis
Mendung yang menghalangi senyummu
Kau semakin gila kawan

Bungamu hilang, kenapa kau diam ?
Apakah kau takut akan durinya ?
Apa kau sudah enggan sebab dia layu?

Akh kawan
Aku muak sekali denganmu
Hanya kata "iya" yang muntah dari rongga mulutmu
Kawanku, coba dengarlah ini

"Bungamu yang hilang itu beda
Dari semua bunga yang ada di dunia
Dia begitu setia memberikan aroma harum di setiap nafasmu
Percayalah kawan
Aku takut kau akan menyesal bila kehilangannya"